Archive for Desember 2017

JANJI TERAKHIR Pagi ini dia datang menemuiku, duduk di sampingku dan tersenyum menatapku. Aku benar-benar tak berdaya melihat tatapan itu, tatapan yang begitu hangat, penuh harap dan selalu membuatku bisa memaafkannya. Aku sadar, aku sangat mencintainya, aku tidak ingin kehilangan dia., meski dia sering menyakiti hatiku dan membuatku menangis. Tidak hanya itu, akupun kehilangan sahabatku, aku tidak peduli dengan perkataan orang lain tentang aku. Aku akan tetap memaafkan Elga, meskipun dia sering menghianati cintaku. “Aku gak tau harus bilang apa lagi, buat kesekian kalinya kamu selingkuh! Kamu udah ngancurin kepercayaan aku!” Aku tidak sanggup menatap matanya lagi, air mataku jatuh begitu deras menghujani wajahku. Aku tak berdaya, begitu lemas dan Dia memelukku erat. “Maafin aku Sevi, maafin aku! Aku janji gak akan nyakitin kamu lagi. Aku janji Sevi. Aku sayang kamu! Please, kamu jangan nangis lagi!” Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi selain memaafkannya, aku tidak ingin kehilangan Elga, aku sangat mencintainya. Malam ini Elga menjemputku, kami akan kencan dan makan malam. Aku sengaja mengenakan gaun biru pemberian Elga dan berdandan secantik mungkin. Kutemui Elga di ruang tamu, Dia tersenyum, memandangiku dari atas hingga bawah. “Sevi, kamu cantik banget malam ini.” “Makasih. Kita jadi dinner kan?” “Ya tentu, tapi Sevi, malam ini aku gak bawa mobil dan mobil kamu masih di bengkel, kamu gak keberatan kita naik Taksi?” “Engga ko, ya udah kita panggil Taksi aja, ayo.” Dengan penuh semangat aku menggandeng lengan Elga. Ini benar-benar menyenangkan, disepanjang perjalanan Elga menggenggam erat tanganku, aku bersandar dibahu Elga menikmati perjalanan kami dan melupakan semua kesalahan yang telah Elga perbuat padaku. Kami berhenti disebuah Tenda di pinggir jalan. Aku sedikit ragu, apa Elga benar-benar mengajakku makan ditempat seperti ini. Aku tahu betul sifat Elga, dia tidak mungkin mau makan di warung kecil di pinggir jalan. “Kenapa El? Mienya gak enak?” “Enggak ko, mienya enak, Cuma panas aja. Kamu gak apa-apa kan makan ditempat kaya gini Sevi?” “Enggak. Aku sering ko makan ditempat kaya gini. Mie ayamnya enak loch. Kamu kunyah pelan-pelan dan nikmati rasanya dalam-dalam.” Aku yakin, Elga gak pernah makan ditempat kaya gini. Tapi sepertinya Elga mulai menikmati makanannya, dia bercerita panjang lebar tentang teman-temannya, keluarganya dan banyak hal. Dua tahun bersama Elga bukan waktu yang singkat, dan tidak mudah untuk mempertahankan hubungan kami selama ini. Elga sering menghianati aku, bukan satu atau dua kali Elga berselingkuh, tapi dia tetap kembali padaku. Dan aku selalu memaafkannya, itu yang membuatku kehilangan sahabat-sahabatku. Mereka benar, aku wanita bodoh yang mau dipermainkan oleh Elga. Meskipun kini mereka menjauhiku, aku tetap menganggap mereka sahabatku. Selesai makan Elga Nampak kebingungan, dia mencari-cari sesuatu dari saku celananya. “Apa dompetku ketinggalan di Taksi?” “Yakin di saku gak ada?” “Gak ada. Gimana dong?” “ya udah, pake uang aku aja. Setiap jalan selalu kamu yang traktir aku, sekarang giliran aku yang traktir kamu. Ok!” “ok. Makasih ya sayang, maafin aku.” Saat di kampus, aku bertemu dengan Alin dan Flora. Aku sangat merindukan kedua sahabatku itu, hampir empat bulan kami tidak bersama, hingga saat ini mereka tetap sahabat terbaikku. Saat berpapasan, Alin menarik tanganku. “Sevi, kamu sakit? Ko pucet sich?” Alin bicara padaku, ini seperti mimpi, Alin masih peduli padaku. “Engga, Cuma capek aja ko Lin. Kalian apa kabar?” “Jelas capek lah, punya pacar diselingkuhin terus! Lagian mau aja sich dimainin sama cowok playboy kaya Elga! Jangan-jangan Elga gak sayang sama kamu? Ups, keceplosan.” “Stop Flo! Kasian Sevi! Kamu kenapa sich Flo bahas itu mulu? Sevi kan gak salah.” “Udah dech Alin, kamu diem aja! Harusnya kamu ngaca Sevi! Kenapa kamu diselingkuhin terus!” Flora bener, jangan-jangan Elga gak sayang sama aku, Elga gak cinta sama aku, itu yang buat Elga selalu menghianati aku. Selama ini aku gak pernah berfikir ke arah sana, mungkin karena aku terlalu mencintai Elga dan takut kehilangan Elga. Semalaman aku memikirkan hal itu, aku ragu terhadap perasaan Elga padaku. Jika benar Elga tidak mencintaiku, aku benar-benar tidak bisa memaafkannya lagi. Meskipun tidak ada jadwal kuliah, aku tetap pergi ke kampus untuk mengerjakan tugas kelompok. Setelah larut malam dan kampus sudah hampir sepi aku pun pulang. Saat sampai ke tempat parkir, aku melihat Elga bersama seorang wanita. Aku tidak bisa melihat wajah wanita itu karena dia membelakangiku. Mungkin Elga menghianatiku lagi. Kali ini aku tidak bisa memaafkannya. Mereka masuk ke dalam mobil, aku bisa melihat wanitaitu, sangat jelas, dia sahabatku, Flora…. Sungguh, aku benar-benar tidak bisa memaafkan Elga. Akan ku pastikan, apa Elga akan jujur padaku atau dia akan membohongiku, ku ambil ponselku dan menghubungi Elga. “Hallo, kamu bisa jemput aku sekarang El?” “Maaf Sevi, aku gak bisa kalo sekarang. Aku lagi nganter kakak, kamu gak bawa mobil ya?” “Emang kakak kamu mau kemana El?” “Mau ke…, itu mau belanja. Sekarang kamu dimana?” “El! Sejak kapan kamu mau nganter kakak kamu belanja? Sejak Flora jadi kakak kamu? Hah?!!” “Sevi, kamu ngomong apa sayang? Kamu bilang sekarang lagi dimana?” “Aku liat sendiri kamu pergi sama Flora El! Kamu gak usah bohongin aku! Kali ini aku gak bisa maafin kamu El! Kenapa kamu harus selingkuh sama Flora El? Aku benci kamu! Mulai sekarang aku gak mau liat kamu lagi! Kita Putus El!” “Sevi, ini gak…….” Kubuang ponselku, kulaju mobilku dengan kecepatan tertinggi, air mataku terus berjatuhan, hatiku sangat sakit, aku harus menerima kenyataan bahwa Elga tidak mencintaiku, dia berselingkuh dengan sahabatku. Beberapa hari setelah kejadian itu aku tidak masuk kuliah, aku hanya bisa mengurung diri di kamar dan menangis. Beruntung Ibu dan Ayah mengerti perasaanku, mereka memberikan semangat padaku dan mendukung aku untuk melupakan Elga, meskipun aku tau itu tak mudah. Setiap hari Elga datang ke rumah dan meminta maaf, bahkan Elga sempat semalaman berada di depan gerbang rumahku, tapi aku tidak menemuinya. Aku berjanji tidak akan memafkan Elga, dan janjiku takan kuingkari, tidak seperti janji-janji Elga yang tidak akan menghianatiku yang selalu dia ingkari. Hari ini kuputuskan untuk pergi kuliah, aku berharap tidak bertemu dengan Elga. Tapi seusai kuliah, tiba-tiba Elga ada dihadapanku. “Maafin aku Sevi! Aku sama Flora gak ada hubungan apa-apa. Aku Cuma nanyain tentang kamu ke dia Sevi! “Kita udah putus El! Jangan ganggu aku lagi! Sekarang kamu bebas! Kamu mau punya pacar Tujuh juga bukan urusan aku!” “TapiSevi..” Aku berlari meninggalkan Elga, meskipun aku sangat mencintainya, aku harus bisa melupakannya. Elga terus mengejarku dan mengucapkan kata maaf. Tapi aku tak pedulikan dia, aku semakin cepat berlari dan menyebrangi jalan raya. Ketika sampai di seberang jalan, terdengar suara tabrakan, dan………… “Elgaaaa…..” Elga tertabrak mobil saat mengejarku, dia terpental sangat jauh. Mawar merah yang ia bawa berserakan bercampur dengan merahnya darah yang keluar dari kepala Elga. “Elga, maafin aku!” “Sevi. Ma-af ma-af a-ku jan-ji jan-ji ga sa-ki-tin ka-mu la-gi a-ku cin-ta ka-mu a-ku ma-u ni-kah sa-ma kam……” “Elgaaaaaa……” Elga meninggal saat itu juga, ini semua salahku, jika aku mau memaafkan Elga semua ini takan terjadi. Sekarang aku harus menerima kenyataan ini, kenyataan yang sangat pahit yang tidak aku inginkan, yang tidak mungkin bisa aku lupakan. Elga menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku, disaat terakhir dia berjanji takan menyakitiku lagi, disaat dia mengatakan mencintaiku dan ingin menikah denganku. Dia mengatakan semuanya disaat meregang nyawa ketika menahan sakit dari benturan keras, ketika darahnya mengalir begitu deras membasahi aspal jalanan. Rasanya ingin sekali menemani Elga didalam tanah sana, menemaninya dalam kegelapan, kesunyian, kedinginan, aku tidak bisa berhenti menangis, menyesali perbuatanku, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Satu minggu setelah Elga meninggal, aku masih menangis, membayangkan semua kenangan indah bersama Elga yang tidak akan pernah terulang lagi. Senyuman Elga, tatapan Elga, takan pernah bisa kulupakan. “Sevi sayang, ini ada titipan dari Ibunya Elga. Kamu jangan melamun terus dong! Kamu harus bangkit! Biar Elga tenang di alam sana. Ibu yakin kamu bisa!” “Ini salah aku Bu. Aku butuh waktu.” Kubuka bingkisan dari Ibu Elga, didalamnya ada kotak kecil berwarna merah, mawar merah yang telah layu dan amplop berwarna merah. Didalam kotak merah itu terdapat sepasang cincin. Aku pun menangis kembali dan membuka amplop itu. Dear Sevi, Sevi sayang, maafin aku, aku janji gak akan nyakitin kamu, aku sangat mencintai kamu, semua yang udah aku lakuin itu buat ngeyakinin kalo Cuma kamu yang terbaik buat aku, Cuma kamu yang aku cinta. Aku harap, kamu mau nemenin aku sampai aku menutup mata, sampai aku menghembuskan nafas terakhirku. Dan cincin ini akan menjadi cincin pernikahan kita. Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin berpisah denganmu Sevi. Love You Elga Air mataku mengalir semakin deras dari setiap sudutnya, kupakai cincin pemberian Elga, aku berlari menghampiri Ibu dan memeluknya. “Bu, aku udah nikah sama Elga!” “Sevi, kenapa sayang?” “Ini!” Kutunjukan cincin pemberian Elga dijari manisku. “Sevi, kamu butuh waktu nak. Kamu harus kuat!” “Sekarang aku mau cerai sama Elga Bu!” kulepas cincin pemberian Elga dan memberikannya pada Ibu. “Aku titip cincin pernikahanku dengan Elga Bu! Ibu harus menjaganya dengan baik!” Ibu memeluku erat dan kami menangis bersama-sama.

Cerpen Cinta - Tugas Foren

Selasa, 12 Desember 2017
0 Comments
Namaku Arfa. Tapi Teman-teman lebih akrab memanggilku Ponidi. Aku tinggal hanya bersama dengan ibuku, Ketika Ayahku meninggal dalam kecelakaan 2 tahun lalu. Semenjak Ayah meninggal, Aku kerap mengalami kejadian-kejadian aneh yang tak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Seperti Melihat Mayat hidup, terlempar ke dunia lain, dan sebagainya. Awalnya, Aku mengira itu hanya bagian dari khayalanku. Namun belakangan, Aku sadar bahwa itu bukan sekedar dari khayalan semata. Pagi ini, Aku berangkat ke sekolah seperti biasa bersama temanku. Foren. Aku hampir terbiasa mendengarkan celotehan dia tiap pagi mengenai pelajaran, pekerjaan rumah, bahkan keluhan tentang fasilitas sekolah yang kurang nyaman. “… Eh pas Aku duduk, kursinya patah jadi dua.” Foren mengakhiri ceritanya. “Pon, Ponidi! Kamu denger gak sih Aku ngomong Apa?!.” teriak Foren. “Hmm..” jawabku singkat. “Mmm.. Kamu denger gak cerita tentang Cermin yang di halaman belakang?.” Tanya Foren. “nggak. kenapa emang?.” “Kemarin Rini cerita, katanya Cermin itu pintu penghubung antara dunia kita sama dunia lain loh.” bisik Foren. “Ah ngaco Kamu. udah deh gak usah ngarang cerita kaya gituan. Aku gak percaya. mending sekarang kita percepat jalan biar gak telat sampe sekokah.” Ujarku mendahului langkah Foren. “Yeeh.. nih anak emang gak bisa diajak Kompromi deh.” gumam Foren pelan. Sesampainya di sekolah, Aku dan Foren langsung masuk kelas tanpa banyak bicara. ‘mungkin dia marah.’ gumamku dalam hati. Bahkan sampai Bel istirahat berbunyi pun Foren sama sekali tidak menegurku. “Rin, liat Foren gak?.” tanyaku pada Rini. tapi Rini tidak meresponku. Pandangan matanya kosong dan sesekali rambutnya berkibar tertiup angin. kucoba bertanya pada teman yang lain. Namun respon mereka tidak jauh berbeda seperti yang kudapat dari Rini. ‘Ini aneh.’ batinku. Saat Bel pulang berbunyi, Aku mencoba mendekati Foren yang langsung bergegas pergi. Entah mengapa nalarku menuntun untuk mengikuti Foren. Akhirnya diam-diam, Aku mengikuti Foren sampai ke suatu tempat yang tak lain dan tak bukan adalah halaman belakang sekolah. ‘Mau Apa anak itu ke sini?.’ batinku. Setelah 10 menit berlalu dan Foren tak kunjung bergeming, Aku baru sadar bahwa dia berdiri menghadap Cermin. Tapi tidak melakukan gerakan apapun layaknya orang bercermin. Penasaran, Kudekati Dia sambil mengulurkan tanganku hendak Memegang bahunya. Alangkah terkejutnya Aku Ketika tak sengaja Melihat Cermin, dan sama sekali tidak menemukan pantulan bayangan Foren di Cermin itu. dalam sekejap kakiku bergetar dan mulutku terbungkam tanpa bisa bersuara sedikitpun. Tubuhku Kaku, Mataku tak bisa lepas dari Cermin itu. Padahal jelas-jelas di depanku berdiri sosok Foren. Tapi di Cermin hanya memperlihatkan bayangan diriku. “Pon.. Kamu kenapa diem aja?. Ayo kita pulang.” Kata Foren sambil Membalikan Tubuhnya. Semakin terkejut Aku Saat Melihat wajah Foren Penuh dengan Darah, Mulutnya yang Menganga dengan lebar dan Matanya yang kosong tanpa bola mata. Di tangan kirinya Memegang Kedua bola matanya. dan Di tangan kanannya Memegang sebilah pisau yang mengkilat terkena pantulan cahaya. ‘bukan. dia bukan Foren. Dia Hantu.’ batinku dalam hati. Saat Hantu Foren perlahan mendekatiku, Aku hanya bisa mendengar detak jantungku yang Semakin cepat. dan tanpa bisa Menghindar, Tubuhku seolah merosot ke lantai. Saat Sadar, Aku Melihat diriku tidak lagi di halaman belakang sekolah. melainkan di UKS. sejarak 2 meter, berdiri sosok yang sangat kukenal. Foren. “Pon! Kamu Gak papa kan?.” Ujar Foren dengan panik sambil menghampiri ranjangku. “Emang Aku kenapa?.” tanyaku bingung. “Ka-Kamu.. Kamu pingsan dari tadi pagi.” Kata Foren Sesaat Aku teringat peristiwa yang kualami dan mulai menceritakannya pada Foren. Dengan Ekspresi wajah yang ketakutan, Foren mendengarkankan Ceritaku sambil sesekali menarik napas panjang. “Tuh kan. Kamu sih gak mau dengerin cerita Aku tadi pagi.” kata Foren seusai Aku bercerita “Emang kenapa sih?.” tanyaku Penasaran “Begini.. Dulu, ada Siswi sekolah ini yang namanya Mila. dia Itu primadona sekolah. Wajahnya cantik, senyumnya manis, Matanya cerah, bulu matanya lentik. pokonya sempurna deh. Anak laki-laki banyak yang tertarik sama dia. tapi anak perempuannya malah Pada benci sama Mila. salah satunya Luna. Dia anak dari kepala sekolah ini pada masanya. singkat cerita, Luna Mulai Nyusun rencana buat bunuh Mila. Akhirnya dia nemuin tempat yang tepat yaitu halaman belakang sekolah. Cara dia bunuh Mila bener-bener sadis. Di depan Cermin itulah Mila dibunuh. Wajahnya Ditusuk berulang kali pakai paku, matanya dia Congkel, mulutnya disobek Sampai Telinga. Setelah puas, Luna ninggalin mayat Mila gitu aja. sampai Pihak kepolisian yang Nyelidiki kasus Mila menangkap Luna dan dengan tragis, Luna Sengaja Bunuh diri Di kamarnya.” Foren Mengakhiri ceritanya Aku hanya terdiam. ingat Saat tadi pagi dia berjalan sendirian di halaman belakang sekolah dan disitulah dia masuk ke Dunia Cermin. kemudian merenungkan kembali Apa yang akan Hantu Foren lakukan jika ia sedikit lebih lama berada dalam Dunia Cermin Itu. Cerpen Karangan: Ahmad Rizqi

Tugas B indonesia

- Copyright © SEKIENCE.COM - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -